Dendam Kesumat



Dendam kesumat

            Ini adalah kesedihan para pensiunan pejuang pada khalayak ramai yang dibelanya. Kisah ini diwariskan dari mulut ke mulut semenjak si mbah mengaku 19-an. Kala itu terjadi perang yang rimbun ‘kali bak dedaunan pohon akasia. Si mbah dan peletonnya diterjunkan pada medan landai tempat kemelut bergurau. Pukul 4 pagi tepatnya, sahut-menyahut jiwa nasionalisme diteriakan. Biar Hindia biar Pribumi. Parang melawan senapan berisi peluru setajam duri sekeras tungsten. Punggawa pribumi berayun-ayun dan menyesal lah gubernur De Jong. Hindia yang kehilangan banyak anak, merengek pada ratu Wilhelmina yang masih belia. Istirahatlah pejuang kita 3 purnama lamanya.
            Dan menariknya kisah ini adalah masa-masa perisitirahatan pejuang yang lelah memegang parang. Ada penguasa yang diam-diam menusuk jantung perjuangan yang keras. Peraturan yang tak lain menyiksa anak-anak negeri yang telah berkeringat. Penguasa ini gila harta sekali. Pada setiap keberhasilan penaklukan suatu benteng atau peleton, mereka tak dibayar, tak ditengok, tak diurus. Penyitaan ribuan gulden dan tak disamaratakan. Kerjanya hanya orasi di pundak pejuang agar makin giat memerdekakan. Si mbah akui, kalimatnya memang berapi-api, namun tidak keringatnya. Banyak yang merasa tak puas pada peraturan “babi” itu. Berengseknya lagi bahwa ia berkuasa sekali. Akhirnya, gerombolan orang-orang gila dan tak tahu arah mulai kudeta. Dikumpulkannya pemuda tanpa ayah, tanpa ibu.
Dan pada malam itu si mbah dan kawan-kawannya masuk ke gedung petinggi di markas para pejuang.
            “jangan masuk, bau sampah didalam!” singgung salah satu penjaga yang ikut serta mengkudeta.
            “peduli setan! Biarpun kandang babi akan ku terabas untuk membantai orang-orang lupa daratan.
            Sepuluh orang masuk mendobrak pintu kayu dilapis tralis itu. Tak disangka-sangka, si “babi” sedang bercumbu setengah badan dengan dua noni belanda. Ah! Malas kali aku pakaikan kutip, panggil saja babi ya, pembaca sepakat pastinya.  Dalam ruangan 4x10 meter itu si babi telanjang dan menyisakan celana dalam, diiringi kulit susu noni pirang yang buah dadanya dapat dikatakan besar. Benar saja, bau sampah betul ruangan ini. Bagaimana bisa manusia hidup didalamnya. Mereka yang malu langsung ambil sikap. Berusaha gagah dalam wajah merah hasil gelagap.
            “bangsat kau babi! Beraninya kau mengkhianati manusia dengan harta! Memang keparat!.” Seru mbah Puji, kawan si mbah.
            “apa maksudmu wahai penjilat? Aku melakukan tugasku dengan baik. Dan ini balasan kalian terhadap penguasa yang akan memerdekakan kalian?. Keparat betul kalian ini! Mana pula penjaga rusun yang ada di depan pintu tadi? Bah! Runyam kali malam ini. Ingin kenikmatan pun ada gangguan. Bah!”
            “kemerdekaan itu milik kami yang berjuang dan berdoa! Bukan macam kau yang hanya berdiri oarsi saja. Kita dapat melihat siapa yang bangsat!. Lagipula kau ini bangsa pribumi, beraninya mencumbu noni-noni belanda? Bah!. Tak suka kau pada warna kulit wanita pribumi? Bah!. Kau mencintai bangsamu atau Hindia yang begini menyusahkannya? Bah!.” Sambut si mbah dengan celaan terhormat.
            Dalam debat yang berisik itu, sang noni ternyata pintar, ia hubungi atasan hindia nya dan berkata “Meneer, help ons, uw gekozen varken wordt gevangen door zijn eigen kinderen. we waren bang omdat de varkens alleen waren en het waren tien mensen. help meneer!”. Si babi yang menolak kami kudeta meracau-racau diatas celana dalam buatan hindia, dan si mbah tahu betul setengah sen harganya. 15 menit kami bergelut karena si babi memiliki senapan nyangkut rupanya. Beruntung kau babi!. 3 pleton tentara Hindia datang tiba-tiba, dihabisinya separuh populasi Indonesia dalam markas itu. Di bom, di tembak, di bakar. Beruntungnya si mbah berhasil menyelinap lewat pintu darurat yang sengaja dibuat. Kawan-kawannya luka, encok kambuh biarpun umur kepala dua. Wajar saja, mereka menghindari bom dan rudal!.
            Babi yang bau itu selamat, menyelinap ia dari lubang tikus yang harusnya tak muat dengan badan tambunnya. Noni-noni itu mengikuti dengan dada yang terbuka, paha yang tanpa kain itu mencolok sekali dalam pekat. Selepas kejadian, si babi pun jadi buronan para pemberontak. Si mbah menyimpan dendam kesumat 64 tahun lamanya. Kawan-kawannya yang gugur adalah saksi kebodohan pemimpin bangsat, yang silih musim, makin meradang. “Dendam kesumat adalah misi paling berat”. Maka dari itu, kita harus merdeka semenjak berpikir, kita harus loyal bila bertindak, gunakanlah otak kalian seperti para tahanan memikirkan cara bebas tanpa hisab. Dendam kesumat, kau terus ada pada diri rakyat yang tak puas akan kebijakan birokrat. Seperti telah jadi dasar negara saja.
                                                                                                           
                                                                                                                                                                                                                                              Madura, 19 September 2019  

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer