05.00
Pukul lima sore, di sebuah dataran pesisir menuju gedung 10 lantai yang dikelilingi tembok dan belukar. Daerah gersang yang tiba-tiba kena hujan dari arah laut atau perbukitan kapur. Di penghujung tahun yang harusnya keberadaan ini ada dirumah dengan secangkir minuman hangat, entah apapun itu. Atau sekedar berbincang-bincang via suara atau video dengan teman-teman lama yang sudah sibuk macam pengangguran cari kerja. Tapi disini lah aku, pukul lima sore.
Sejak beberapa hari setelah berbagai tes dijalankan. Mulai dari hidung, kening, mulut, dan pergelangan atau pangkal lengan. Dasar dunia penyakitan! Bikin ribet mau jalan-jalan. Sekitar 3 malam sudah tidur berseberangan dengan gawai dan mesin ketik modern yang sepakat disebut laptop. Atau juga tetangga kos yang tiap malam tidur bersama pacarnya yang hanya suara.
Setelah beberapa hari merasakan hujan tanah bukan tanah lahir, dan beberapa tempat makan jadi sambangan, baik pagi dan malam hari. Banyak buah-buah pikiran merambat dari sebuah peristiwa yang didepan mata. Bermacam-macam isinya, seperti bola-bola ubi rasa coklat, keju, strauberi. Mulai dari manusia yang lupa caranya berinteraksi, hingga pertanyaan tentang mana prioritas diri. Rasanya menjadi montesque, yang enggan berhenti menggunakan nalar pada hal-hal yang masih rancu di prediksi.
Sebuah kejujuran paling tinggi adalah pemahaman dan keberanian. Bagaimana memahami situasi dan keberanian untuk mengungkapan. Setelahnya ada tanggung jawab dan respon alamiah diri. Ketika memilih jujur didasar oleh prediksi tak ber data, rasanya seperti berbunyi tanpa sebuah rangsangan. Ibarat sulitng yang butuh sebuah tiupan untuk menghasilkan bunyi. Kita bicara dan takut akan kemungkinan yang mungkin terjadi di depan. Tanpa persiapan dan rencana simpanan.
Kadang banyak yang bingung kapan harus berpikir lewat rasa, kapan berpikir lewat sisi otak. Inilah manusia yang dibebaskan berpikir. Resonansi otak tak selalu sama, dan tidak semua pemahaman itu lahir dari kejujuran. Lalu datang pula kata ‘menerima’ yang asalnya adalah pemahaman. Namun aku yakin bahwa kau yang membaca ini mencoba mencari tahu apa isi sebenarnya dari apa yang aku tulis. Selamat ber persepsi ria, pembaca. Lima paragraf ini tidaklah menyinggung, hanya ada yang ada di sebuah kepala. Dan semua itu pecah ketika lagu rock metallica memainkan iramanya.


Komentar
Posting Komentar