Minor

 



Pada setiap kata kau dengar, 

Yang setelahnya adalah nada-nada minor

Ketika lembayung menertawakan langit

Di setiap sisa-sisa kalimat yang kau baca. 


Apakah hati itu masih merah?

Setelah kau paksa dengan teratur 

Untuk perlahan-lahan meminum rindu

Yang tak berujung?.


Kita tidak lagi menggunakan pena,

Atau amplop merah dan biru

Dalam setiap kata; adalah hujan yang biasa saja

Namun sadar kah kau?.


Jantung ini berdegup seperti dua lubang tali sepatu,

Entah kanan, pun kiri

Bernafas cerita

Yang dua purnama kau tinggalkan. 


Andai pergi memiliki bahasa tersendiri,

Yang hanya kutulis adalah sabar

Yang hanya kuucap adalah rasa

Yang hanya kudapat adalah sisa.


Angin ini masuk kedalam ruang sempit,

Pada dinding-dinding yang penuh dirimu

Kemudian pamit,

Dan suasana jadi semu.


05/01/22

Komentar

Postingan Populer