RUMAH TETAPLAH RUMAH

 

Rumah tetaplah rumah biarpun penghuninya hanya sekedar lima atau empat orang. Rumah adalah tempat bernaung sebuah keluarga yang harusnya merupakan tempat paling nyaman dan pembawa tenang paling dekat. Seperti halnya rumah, keluarga juga merupakan tempat bernaung dan tempat untuk memulangkan hati, bahkan hari.

Rumah tetaplah rumah, baik dalam konteks bangunan, persaudaraan, bahkan organisasi. Dalam konteks bangunan, rumah adalah sebuah tempat yang memiliki dinding dan atap. Dalam konteks persaudaraan, rumah adalah tempat untuk bertaut dan merasakan kenyamanan. Dalam konteks organisasi, rumah adalah sebuah ikatan yang diciptakan atas dasar satu tujuan dan bagaimana bergerak dengan rasa nyaman dan aman. Rumah tidak perlu bagus untuk ditinggali, tidak selalu nyaman untuk dibuat istirahat, tidak melulu kokoh dari guncangan.

Rumah tetaplah rumah. Tergantung bagaimana kita melihatnya, sebagai apapun. Dalam hal bangunan, semen dan bata; bahkan kayu merupakan pondasi dasar yang difungsikan sebagai penguat dan daya tahan. Dalam hal persaudaraan, yang mempertahankan bukanlah material-material melainkan komunikasi. Perihal bagaimana komunikasi itu dijalankan dengan rasa nyaman. Dalam hal organisasi, alat untuk mengokohkan bangunan itu tetap sama seperti persaudaraan, komunikasi. Tanpa adanya pondasi dan konstruksi dasar, semua hal yang dibangun tidak akan bertahan lama. Baik dalam hal fisik atau emosional.

Rumah tetaplah rumah. Keluarga tetaplah keluarga. Pandangan filosofis yang menjadi dasar dari banyak rasa aman dan kenyamanan. Konflik itu pasti ada, mereka hidup sebagai seni dari ikatan. Mereka hidup sebagai gempa, tergantung berapa dalam masalah yang jadi episentrum. Kembali pada filosofi bagaimana rumah tadi merupakan sebuah kesatuan, dengan konflik yang ada. Apakah akan kokoh? Atau sudah terurai dan lebur bersama langkah-langkah yang perlahan mati?.

Rumah tetaplah rumah, disana kau dapat bercerita tentang segala. Bahkan untuk mengukir pada wajah dinding, atau pintu. “Eksistensi atau substansi?” keduanya adalah hal yang penting. Dalam konteks rumah sebagai ikatan, mereka adalah keseimbangan dan sebuah kesatuan. Rumah tetaplah rumah, biarpun ia berubah. Dalam segi bentuk, suasana, atau bahkan fungsi. Kita tidak bisa melawan sebuah perubahan, karena perubahan adalah hal yang pasti terjadi.

Rumah tetaplah rumah, biarpun penghuninya hanya sekedar lima atau empat orang. Bagaimana kita dapat memberikan kenyamanan dan rasa aman yang sama, dalam bentuk yang mungkin berbeda. Keluarga merupakan sebuah kesatuan, biarpun memiliki banyak kepala untuk dipikirkan. Rumah seharusnya menjadi tempat datang, bukan tempat untuk pergi. Tulisan ini ditujukan kepada rumah yang sudah rapuh, tak lagi dapat dikenali.  

Komentar

Postingan Populer