Memaknai Merdeka
Sudah
77 tahun Indonesia merdeka dari jajahan bahasa asing, budaya asing, dan sistem
kerajaan asing. Beberapa masih bertahan pasca merdeka, seperti kebodohan,
kelaparan, korupsi, oligarki, nepotisme, dan masih banyak lagi. Kebodohan masih
menjamur dalam semua kalangan, bahkan yang mengaku sebagai seorang intelek
sekalipun. Banyak yang tidak tahu namun berpura-pura tahu sehingga menimbulkan
makin banyak kebodohan lahir. Kelaparan masih banyak ditemui ditengah sumringah
iklan anak-anak di televisi dan ditengah banyaknya promo makan ‘murah’. Perihal
korupsi, tidak perlu dibahas lebih lanjut karena mau dikuras dan digali sedalam
apapun tidak akan bisa hilang. Oligarki juga sama dengan korupsi. Bedanya hanya
di alasan melakukan, dimana korupsi dilakukan karena khilaf sedangkan oligarki
dilakukan untuk menjaga dinasti dengan alasan privilege. Nepotisme juga sama, sama-sama nyusahin.
Memahami
kemerdekaan. Tiap kepala pasti punya interpretasinya masing-masing soal
definisi merdeka. Namun kebanyakan orang hanya melihat nilai historis dalam
suatu makna kemerdekaan. Ya tidak salah sih, karena manusia-manusia kecil yang
hidup di negara ini sudah di doktrin dan diajarkan mengenai maksud dari merdeka
yang hanya terbatas pada perjuangan para pahlawan. Penulis bukan bermaksud
untuk tidak menghargai jasa perjuangan para pahlawan, namun hanya mencoba
memaknai kemerdekaan dari sisi lain.
Biasanya
apasih yang dilakukan masyarakat untuk menyambut hari merdeka? Pasti yang
terlintas langsung kepada upacara bendera. Karena pada saat itulah bendera
merah putih dikibarkan, dan pada saat itulah semua orang merasakan euforia
kemerdekaan. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, sampai hilang sikap sempurna nya.
Hal tersebut tidak salah, namun terlalu dangkal untuk merayakan sebuah
kemerdekaan.
Seperti
yang kita tahu bahwa merdeka merupakan suatu nilai tersendiri yang menunjukan
bahwa suatu negara siap berdaulat dan siap untuk lepas dari intervensi bangsa
atau negara lain. Atas dasar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa merdeka
adalah hal-hal visioner. Merdeka itu luas, dan upacara itu simbolik. Para
pahlawan senang di apresiasi, namun bahagia bila cita-cita dan harapan untuk
bangsanya terwujud. Pernyataan ini berkaitan dengan tulisan di paragraf kedua
yang menyebutkan bahwa “manusia kecil sudah di doktrin dan diajarkan mengenai
maksud merdeka yang terbatas pada perjuangan”. Coba sejenak kita ingat masa
kecil kita yang menentukan pandangan kita tentang merdeka. Pasti berfokus pada
lomba, pengibaran, makan-makan, promo 17. Betul kan?
Makna
merdeka berkaitan juga dengan rasa nasionalisme. Dan di dua kata tadi banyak
ditemukan mispersepsi secara etimologis dan dari cara memaknai. Banyak orang
berpikir bahwa rasa nasionalisme itu ada ketika hormat bendera, atau bahkan
membela negaranya yang sedang di hina, atau juga memaki negara lain yang mencoba
mengambil salah satu budaya dari negara tercinta. Setiap rasa pasti punya
stimulus, dan rasa banyak jenisnya. Nasionalisme merupakan salah satu bentuk
kesadaran diri dan bentuk kecintaan diri terhadap suatu bangsa. Setiap orang
punya kadar mencintai masing-masing, dan cara menunjukannya pun berbeda-beda. Hal
ini memunculkan suatu pertanyaan, yaitu ‘apa iya kita cinta sama negara
sendiri? Sama tanah air sendiri?’. Jawabannya tulis di komen.
Penulis
merasakan cinta bertepuk sebelah tangan apabila nasionalisme di analogikan
sebagai suatu hubungan antar manusia. Penulis mencintai negara sendiri, namun
apakah negara sendiri mencintai penulis?. Melihat banyak sekali
fenomena-fenomena yang membuat penulis elus-elus dada minta sabar sama Tuhan. Rasa
cinta tanah air akan hadir apabila kita telah dicintai tanah air. Dicintai tanah
air dapat berupa kesejahteraan hidup, dijamin kebutuhannya (tentunya kerja
juga, bukan nganggur!), dan di fasilitasi kekurangannya. Dari tiga hal dasar
yang baru saja disebutkan, mari kita lihat negara ini sudah sampai mana dalam
mencintai rakyatnya. Pasti kaget bukan? Iya. Mungkin setelah ini ada yang
bilang dalam hatinya sendiri “apasih, nyalahin pemerintah terus”, “pemerintah
juga udah berusaha semaksimal mungkin kali”, “SDM nya aja kurang berwawasan
makanya ga maju-maju”. Ya ngga ada salahnya sih mikir kaya gitu, tapi kalau
kalian baca tulisan ini dari awal juga semuanya berkaitan dan menjawab
pertanyaan kenapa kita ga maju-maju dan banyak salah memaknai kalimat sakral
soal merdeka dan nasionalisme.
Seharusnya
dalam momen merdeka seperti ini banyak-banyak dilakukan review mengenai
permasalahan selama satu tahun dari merdeka tahun lalu. Melihat apa saja yang
sudah diselesaikan, diperbaiki dan bagian mana yang belum selesai. Bukan cuma
dipertontonkan euforianya saja. Banyak masyarakat yang belum merasakan makna
sesungguhnya dari merdeka, sehingga mereka lebih kenal daerahnya sendiri
dibanding negaranya. Lihat sendiri kan bagaimana orang-orang di daerah
terpencil tidak hafal pancasila tapi hafal lagu daerah? Harusnya kita tidak
tutup mata perihal ini. Sebagai negara pluralis, menjunjung kebudayaan itu
wajar, namun harus diiringi dengan peran badan-badan berwenang. Agar Indonesia
yang merdeka itu sampai pada setiap daerah yang bahkan paling masuk kedalam
perut bumi sekalipun.
Bahasannya
serius ih, jadi mikir kan. Tulisan ini dibuat tidak untuk menyinggung atau
bahkan menodai makna dari kemerdekaan negara tersayang ini. Tulisan ini murni
hasil berpikir penulis yang dapat ide ketika duduk dibawah payung disebuah
jalan yang untungnya tidak hujan dan tidak panas. Kalian mau berpendapat? Sangat
dipersilahkan. Salam hangat dan selamat merdeka Indonesia.


Komentar
Posting Komentar