Januadiary
Dunia, Januari 2020
Menatap
2020 dari lubang sedotan adalah sebuah cara tersendiri dalam memandang
kehidupan sosial, ekonomi, hukum, filsafat, dan banyak lagi. Baru beberapa hari
dari 2019 yang banyak polemik tentang kepresidenan, residen, dan dewan-dewan
korup itu. Tentang para pemuka yang kerjanya cari onar. Apalagi publik figur
yang banyak meng-influence generasi z
pada hal-hal yang sangat gokil sampai-sampai nalar harus belok ke kiri, masuk
jurang, mendaki, dan sampai di lubang anus. Alias masuk akal.
Toxic dari 2019
adalah kelanjutan dari 2018, dan 2018 adalah toxic kelanjutan dari 2017, ya begitulah rantainya. Perkara tidak
benar-benar habis. Melainkan memicu anak-anak perkara yang kalau sudah puber akan lebih kacau dari si induk. Begitupun 2020 yang bergulir saat ini. Banyak hal-hal
yang membuat semua bulu kuduk berdiri, mata merah, batuk sosialita, ingus
semesta, badan pliket.
Mulai dari tahun baru tanpa bisingnya mercon dilangit,
hingga demam China yang mewabah nyaman di sekitaran Asia. Mari jelaskan secara
rinci dan rentet, karena sejarah bersifat diakronik dan sinkronik. Tanggal 31
Desember 2019 sampai 1 Januari 2020 diguyur hujan lebat tanpa sebab dan sembab.
Biasanya tanggal itu adalah momen pas untuk nonton bareng pasangan, main
dirumahnya, makan kacang, dikamarnya, main bola mungkin. Tapi beruntungnya
semua itu tidak terjadi. Tuhan kirim hujan yang begitu deras sampai-sampai
dompet para hidung belang menangis karena dianggurkan. Aduh kasihan.
Dari hujan itu timbul banjir yang tinggi sekali. Bahkan BNPB
mencatat ada wilayah tertentu yang tergenang menjadi separauh danau kota. Kira-kira
4 meter tingginya, satu komplek luas permukaanya. “Oh Tuhan, banyak BMW dan
Mercedes yang terendam, biaya servis mahal dan kami harus membeli banyak barang
baru,” – tutur hati, yang digumam lumpur sawah. Ada beberapa korban jiwa dalam
banjir ini. Penulis turut berduka, percayalah.
Dalam bulan ini, media sosial kebanjiran tagar tentang
perang dunia ketiga. Bukan lagi antara Trump dan KJU, melainkan Trump melawan
Iran. Jendral utama mereka berhasil dibunuh dalam misi yang penulis sendiri
kurang paham. Menurut kabar, Amerika menghindari ancaman dari Iran yang
disangka sebagai penghasil teroris. Hal ini adalah kelanjutan dari konflik
dingin antara warga pengungsi Iran yang tidak diperbolehkan masuk, dengan
parlemen Donald Trump yang tidak mengizinkan mereka tinggal di tanah Indian. Ini
adalah keputusan perang terkonyol yang pernah diambil seorang Presiden Amerika.
Banyak juga kaum-kaum pasir (sebutan muslim yang berlagak ustad) yang
menyebutkan bahwa Trump adalah titisan dajjal. Sungguh lawak, tapi menarik
dibahas.
Berlanjut
pada halusinasi orang-orang tentang empire
yang mereka dambakan. Ingin jadi raja didalam wilayah raja lain. Ada keraton,
markas utama, Pentagon ditaklukan, dan istana pedro. Purworejo, Banten, dan
satunya entah dimana, mendeklarasikan bahwa mereka memiliki darah raja dan memiliki
hak untuk membangun sebuah kerajaan. Anehnya, ada saja orang yang rela jadi
pengikut raja sesat yang ngaku-ngaku punya segala, padahal minta. Entah dibayar,
entah dari hati, banyak spekulasi dan kita tidak bisa menemukan titik buntu. Paling
aneh lagi, salah satu dari kerajaan mulia ini mengklaim, bahwa mereka memiliki
banyak koneksi dan koalisi diluar Negara tercinta ini. 'Mengirim rudal' adalah kata yang paling rakyat ingat.
Berlanjut dari zaman kerajaan, kini dunia menghadapi
banyak gunung aktif yang erupsi. Bukan hanya di satu titik melainkan dibanyak
titik. Mulai dari Eropa hingga Asia. Gunung itu meledak sejadi-jadinya dan
rakyat teriak minta tolong seperti biasanya. Seperti berada dalam zaman Jurassic dimana salah satu teori
menyebutkan bahwa zaman itu tidak berakhir karena asteroid, melainkan letusan
gunung berapi. Tidak heran, gunung api dapat menghasilkan gaya energi eksplosif
yang luar biasa. Belum lagi awan debu yang beterbangan dapat menggelapkan seisi
dunia, biarpun skincare sudah melekat di kulit wanita atau pria. Cahaya surya
tidak tembus, gulita bukan hanya hatimu tapi siang hari juga sama. Bantuan kemanusiaan
datang, kita tertolong.
Kondisi Januari diperparah dengan munculnya virus Wuhan,
atau flu China yang saat ini meneror 7 miliar umat manusia. Penyakit mirip SARS
dan Bronkhitis, tapi bukan sara dan disintegrasi. Gejalanya masih samar, hampir sama
dan tidak ada beda dengan flu. Pembedanya hanya demam tinggi. Kondisi ini
sungguh mengerikan karena di Wuhan sendiri sudah berapa orang terjangkit dan
baru satu yang benar-benar dinyatakan sembuh. Seluruh dunia siaga bukan lagi
perihal perang dunia tiga, melainkan penyakit. Dari kejadian ini, banyak pihak
yang menaruh China dalam list hitam. Bahkan tidak sedikit negara yang mendiskreditkan
China dalam kejadian ini. Tahun baru Imlek diperpanjang liburnya, dan tagihan
rumah sakit makin mengerikan dalam BON-nya.
Januari seperti setahun. Banyak prahara dan polemik. Bukan
lagi rumah tangga Negara, melainkan dunia. “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat
tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa,” – Ebiet G. Ade. Sekilas
tentang Januari yang penuh bencana, penulis berpikir bahwa dunia semakin usang
dan makin rindu sang pencipta.
Manusia
bertahan hidup dengan caranya masing-masing, tapi kita tak akan pernah bisa
hidup sendirian. Kita juga tak bisa mengalahkan alam yang jauh lebih kolot dari
Adam dan Hawa. Alam selalu punya cara untuk melakukan genosida besar-besaran. Ulah
kita, jadi jangan banyak bucin dan jangan banyak tingkah. Dunia ini bukan untuk
kita, tapi untuk yang sudah mati. Kita hanyalah sarana pembuktian dari
harapan-harapan pendahulu yang telah menemukan dan mengembangkan. Hasil? Kita yang
tentukan. Tolak ukur manusia dalam keberhasilan juga bermacam-macam, jadi
jangan putus asa kalau Tuhan yang turun tangan.
Januadiary,
adalah sebutan sendiri karena sebulan dapat mengisi 365 halaman buku harian
yang akan ditulis untuk beberapa tahun lagi. Bulan depan ada apa? Semoga tidak
ada apa-apa. Jangan salah baca ya, nanti ku kepret pakai celana dalam tetangga
yang kedodoran. – dz


Komentar
Posting Komentar