Sebuah surat, untuk siapa? Tentukan sendiri
Ada pagi, dalam setiap pejam
Yang membuka mata sebelum surya menjemput
Dingin, dan khayal ku membatu.
Waktu itu adalah hari ini,
Dua hari menuju sembilanbelas
‘Ketika semua telah berakhir.’
Kemudian ini,
Sudah berapa abad yang ku lalui?
Ada roman Hindia, 70an, 80an, hingga tahun lalu
Sialan!.
Balada pagi buta,
Radio bernyanyi dan kita termenung
Menderai kemarau dalam payung hitam tanda duka.
Kau bukan Danilla yang pandai bernyanyi,
Bukan pula Banda dengan badainya,
Bukan kamu, dan bukan siapa-siapa.
Maafkan lara,
Denganmu hancur sebuah negeri
Tanpa raja, tanpa ratu.
Dan lalu, ini
Berhasil kau mengutuk dan memenjarakanku
Ruang pengap, pegat; sendiri yang aku benci.
Nanti, tentang hari itu
Ada rupa dalam ruang hampa, dengan rantai nostalgia
dan udaranya rindu
Dan kamu, adalah dimensi lain dari semua tempat yang
tanggal satu-persatu.
Kau benar, terlalu benar
Kau binar, terlalu sinar
Kau bakar, hangus jadi abu.
Aku memilih menjadi sunyi; tempatmu menyesal
Kucari kamu, kutemui kau tiada
Datanglah sesekali, disana tiada dusta.
Sebuah surat, untuk siapa? Tentukan sendiri.
-da
Komentar
Posting Komentar