manusia
Berdasarkan pedalaman-pedalaman manusia yang berkaitan dengan bagaimana mereka hidup, terlihat jelas dari dasarnya berpikir dan memandang. Kalau Tuhan bilang sama rata, mungkin dalam derajat dapat dikatakan iya, namun dalam aspek lain bisa dibilang tidak demikian. Untuk saat ini tidak akan dibahas mengenai kadar pembeda manusia berdasarkan surga atau neraka, yang enteng-enteng saja dulu ya. Contohnya ego, simpati, empati dan motivasi dan banyak yang lain lagi.
Manusia memiliki naluri untuk ‘menang sendiri’ . Hal ini kelihatan jelas ketika manusia tadi berada dalam titik yang membahayakan, seperti dikejar asu galak yang dibiarkan lepas pemiliknya. Pasti mereka yang dikejar asu tadi berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dibanding menyelamatkan kawan yang kecepatan larinya tidak sampai 20 km/jam. Hal ini masuk akal, dan memang harfiahnya manusia bersikap atas apa yang menguntungkan mereka dahulu, baru orang lain.
Jadi manusia itu harus adaptif. Biarpun kita tidak bisa metamorfosis seperti cebong dan kampret. Eh katak maksudnya. Sejatinya, manusia itu takut akan perubahan. Apalagi perubahan itu bersifat seketika dan luas. Karena sulit bagi manusia meninggalkan zona nyaman yang telah dicapainya dalam sebuah fase kehidupan. Untuk orang-orang yang intuitif dan peka, mereka akan risih apabila melihat sebuah perkembangan, apalagi perkembangan itu tidak menguntungkan. Sementara untuk beberapa jenis manusia, mereka memilih ‘yaudahin’ aja, biarpun kaget awalnya.
Ego adalah perisai diri, dimana ia akan memberikan batas tak terlihat yang menyebabkan manusia tadi susah tidur karena kepikiran. Berangkat dari kalimat ‘manusia makhluk yang mau menang sendiri’, aspek ego ini yang paling relevan untuk menjelaskannya. Kebanyakan orang yang memiliki ego tinggi, bersifat dominan dan mau menang sendiri. Mereka sulit diatur dan diajak bekerja sama, dan hanya ingin dimengerti saja tanpa mau memikirkan ego yang dimiliki orang lain. Kadang hal ini meresahkan, tapi untuk sebagian manusia yang memiliki kesabaran berlebih, mereka tidak masalah dengan hal yang begini. Memiliki ego memang tidak salah, tapi jangan berpikir dengannya. Berpikir lebih luas adalah jawabannya.


Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus