PKKMB

 


Bismillahirahmanirahim,

Dengan hormat, salam barusan disampaikan dengan ketulusan yang amat sangat bersamaan dengan suara sruput teh tarik yang baru saja dibuat pukul 21.30 tadi. Malam ini bercuaca cerah kemarau yang bahkan mendinginkan kota yang sedang marah-marah bersamaan dengan pasangan-pasangan muda yang memadu kasih didepan kios-kios minuman. Aduh, iri.

Bagaimana pendapat pembaca tentang ilustrasi diatas? Panas? Dingin? Cekikikan?. Reaksi kalian menggambarkan bagaimana sudut pandang kalian terhadap fenomena yang pasti terjadi antara Juli sampai Agustus tiap tahunnya. Iya, penerimaan mahasiswa baru.

Mau tau bagaimana interpretasi penulis terhadap ilustrasi tersebut? baiklah akan dijelaskan. Penulis menggambarkan bahwa mahasiswa pasti bingung karena dihadapkan kepada banyak pilihan dan cita-cita yang pastinya punya nilai positif dalam kehidupan mahasiswa. Salah satunya adalah nongkrong dan bahas-bahas tentang birokrasi. Penulis tidak ada masalah dengan hal tersebut karena penulis sendiri masih melakukannya di semester yang sudah tua ini.

Kembali pada pilihan-pilihan yang baru saja dijelaskan, pilihan tersebut dimaksudkan kepada orientasi dan fundamental daripada suatu klub. Baik dari cara bermain dan tujuan dalam satu musim. Tujuan tersebut harus jelas, jangan seperti Manchester United yang tidak menjual bang Maguire dan melepas Paul Pogba. Loh, kok jadi gini bahasannya?.

Masa-masa PKKMB adalah masa penuh nostalgia khususnya untuk penulis sendiri. Karena sejatinya masa-masa ini adalah masa dimana mahasiswa diajarkan mengenai solidaritas dengan slogan “Satu kena, semua kena”. Atas dasar tersebut, mahasiswa saling bergandengan tangan dan akhirnya berani bersuara untuk melawan Komdis. Pada masa PKKMB, setiap mahasiswa diajarkan untuk berani bersuara (karena di briefing oleh kakak panitia) dan mengutarakan pendapat yang amat tajam sampai tidak lagi diajak ngopi di warkop terdekat.

“Yang kritis ditarik, yang ambis ditarik, yang haus ditinggalkan”. Kata-kata tersebut pernah terdengar dalam sebuah forum diluar wilayah kampus ketika nasi goreng itu setengah matang dan bahkan belum diberi bumbu. Masa maba dikejutkan dengan dua kakak tingkat yang berkelahi didepan kedai nasi goreng. Pada waktu itu, kepolosan menjadi daya tarik tersendiri karena berkat itu banyak yang tersaring. Penulis adalah salah satu orang yang punya kepolosan murni, sehingga sulit menganalisa hal yang terjadi waktu itu tentang alasan kenapa dua kakak berkumis malah saling hina di depan kedai nasi goreng.

Setelah banyak ditelusuri, ternyata di kampus sendiri punya beberapa golongan dengan ideologinya masing-masing, yang penulis kira hanya ideologi Pancasila. Kebhinekaan adalah suatu hal yang niscaya apabila PKKMB sedang berlangsung. Dimana kawan-kawan kita ini bergerak berdasarkan ‘sesuatu’ yang mendorong dirinya, dan begitu pula yang lainnya. Hal itu tidak salah karena pada dasarnya manusia memiliki ambisi yang menggerakan jiwanya untuk mencapai sesuatu, biarpun beberapa langkah gerakannya ada intervensi dari luar dirinya.

Selayaknya hubungan backstreet, kegiatan rahasia itu dilakukan diam-diam dan sangat mengagetkan. Penulis sendiri kaget dengan perkembangan yang masif tapi tidak tersentuh langkah-langkahnya, hanya bisa diikuti baunya. Hal ini menunjukan bahwa perubahan dapat terjadi secara diam-diam dan tanpa menunjukan gejala awal sekalipun. Perubahan ini mulai terasa ketika maba sudah masuk dalam lingkup akademis dan mulai belajar dalam ruang kelas. Biasanya ada yang tiba-tiba menjauh dan punya banyak teman baru yang bahkan sebelumnya tidak tampak fisiknya. Hehe.

Tidak masalah, kita semua punya hak begitupula organisasi. Mereka bebas bergerak kemanapun, merekrut berapapun, dan melakukan kegiatan apapun. Tulisan ini tidak menyudutkan salah satu pihak, karena pada dasarnya ini adalah pandangan penulis sendiri  tentang fenomena tahunan yang tidak dapat dihindari. Maka dari itu, tulisan ini tidak eksplisit menyebutkan golongan tertentu karena sejatinya penulis juga takut hilang dalam peradaban. Hehe.

Sekali lagi ditekankan, tulisan ini tidak dibuat untuk menghina atau bahkan menyudutkan salah satu pihak. Urusan kecewa, ketawa, baper, dan laper ditanggung para pembaca yang terhormat sekalian. Tulisan ini dibuat dengan ketulusan memori yang ternyata masih murni polosnya, bersamaan dengan sruput nendang teh tarik yang sedikit kemanisan. Setelah ini, sepertinya penulis akan bersin-bersin karena dibicarakan banyak orang. Biar tulisan ini ditutup dengan jawaban salam ikonik dari dosen. Salam hangat.

wasw


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer